Ikhtiar Membangun Masyarakat Belajar
Oleh Dedi Sutansyah, S.Pd.
Pengalaman belajar di masa lalu pada pendidikan formal mempunyai korelasi dengan sikap belajar berikutnya.
Sejumlah hasil penelitian pada masa dan wilayah yang berbeda, mungkin ada relevansinya dengan saat ini dalam pendidikan kita. Sikap bijak yang perlu kita lakukan adalah terus memperbarui isi, proses, dan iklim (atmosfer) pembelajaran dari waktu ke waktu. Sebagai guru pun harus terus belajar menjadi pembelajar yang sejati.
Masyarakat belajar adalah suatu komunitas yang memiliki motivasi untuk belajar, baik di lingkungan formal, nonformal, maupun informal. Belajar tidaklah dirasakan sebagai suatu beban dan siksaan. Akan tetapi, belajar menjadi suatu kesenangan dan kebutuhan. Bila mereka tidak dapat memanfaatkan dan menyediakan untuk belajar, maka akan merasa ada yang hilang atau tidak lengkap dalam hidupnya. Ah sungguh, sesuatu yang rasanya terlalu idealis dan cuman mimpi di siang bolong.
Sesungguhnya kondisi demikian tidaklah mustahil untuk diwujudkan. Meskipun juga tidak mudah untuk direalisasikan. Diperlukan tekad, komitmen, kesungguhan, kebersamaan, kerja keras, daya juang, dan kesabaran untuk mencapainya. Akan tetapi, satu hal yang tak boleh hilang, walau susah kita harus mengupayakannya agar kemajuan bangsa dapat tercapai. Penyair tersohor, Chairil Anwar berkata, "sekali berarti sudah itu mati".
Beberapa saran berikut mungkin dapat kita terapkan. Pertama, pembentukan individu menjadi warga belajar (reading society). Anak harus diberi motivasi untuk belajar, membaca, meneliti, menulis, laporan individual, dan kelompok. Semuanya harus dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, sesuai perkembangan piskologisnya, dan penuh disiplin. Perkembangan kemajuan belajar anak diikuti secara intensif. Hasil pekerjaan dan prestasi anak disampaikan dengan bijaksana.
Kedua, memperbaiki persepsi. Guru mempunyai tugas penting untuk membangun persepsi yang benar. Belajar tidak cukup dari guru di sekolah, belajar tidak cukup di bangku formal, belajar tidak dibatasi oleh usia, belajar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, belajar merupakan kebutuhan primer, belajar tidak hanya didasarkan pada sesuatu yang bersifat baca tulis, belajar bisa bersumber pengalaman, dan belajar itu bersifat sepanjang hayat. Pembinaan ini harus dilakukan terus-menerus.
Ketiga, menumbuhkan kepercayaan. Rasa percaya diri mampu menjadi pembelajar sejati haruslah ditanamkan. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kesanggupan mempelajari sesuatu dari berbagai cerita atau lainnya. Oleh karena itu, tidak pada tempatnya merasa minder dan frustrasi. Persoalannya hanya terletak pada kesungguhan dan tekad yang kuat untuk mempelajarinya.
Keempat, tumbuhkan kemauan untuk berubah. Perubahan akan selalu terjadi. Kita pasti akan mengalaminya. Itu sudah menjadi hukum alam. Akan tetapi, janganlah menyepelekannya sehingga kita terombang-ambing oleh perubahan itu. Semestinya, kita mengendalikan perubahan itu. Dan itu hanya bisa dilakukan bila kita mempersiapkan diri dengan berbagai perubahan. Perubahan diri tentu merupakan keniscayaan.
Masyarakat belajar merupakan cerminan masyarakat yang menghendaki kemajuan dan perubahan di berbagai strata kehidupannya. Sikap dan semangat belajar jangan sampai redup apalagi padam dalam diri kita, keluarga kita, anak didik kita, dan masyarakat kita. Wallahualam.
Penulis, adalah guru Matematika SMAN 13 Bandung.
Penulis:









Visitors : 69945 visitors
Today : 28 users