Urgensi Penelitian Tindakan Kelas
Oleh Dedi Sutansyah, S.Pd.
Guru memegang peranan penting dalam upaya mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, berbagai kegiatan untuk meningkatkan mutu, penghargaan, dan kesejahteraannya harus terus dilakukan. Harapannya, mereka akan lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam Standar Nasional Pendidikan (2005), ditegaskan sepuluh kompetensi guru yang disempurnakan menjadi empat kompetensi, yaitu (1) kepribadian, (2) profesional, (3) kependidikan, dan (4) sosial. Penyempurnaan tersebut dilakukan karena dari pengamatan praktik sehari-hari terkesan bahwa dalam mengajar guru cenderung mengutamakan mengajar secara mekanistik dan agak melupakan tugas mendidik.
Sebenarnya banyak jalan yang dapat ditempuh para pendidik/guru dalam mengembangkan profesinya, salah satunya adalah kegiatan penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah (KTI). Ada beragam penelitian yang dapat dilakukan guru, misalnya penelitian deskriptif, eksperimen, dan penelitian tindakan. Di antara jenis penelitian tersebut, yang diutamakan dan disarankan adalah penelitian tindakan.
Setidaknya ada empat alasan mengapa PTK lebih dianjurkan. Pertama, PTK merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Penelitian ini memberikan dampak langsung pada pembelajaran di kelasnya.
Kedua, dengan melakukan kegiatan penelitian tersebut para guru telah melakukan salah satu tugasnya dalam pengembangan profesionalnya. Arah dan tujuan penelitian ini adalah demi kepentingan peserta didik dalam memperoleh hasil belajar yang memuaskan (jadi bukanlah kepentingan guru). Ketiga, menumbuhkan budaya akademik yang positif. Keempat, penelitian ini tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas.
Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai proses persoalan riil dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung, serta interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar. Salah satu ciri khas PTK adalah adanya kolaborasi antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dan lain-lain) dan peneliti (dosen, widyaiswara) dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, serta pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action). Kerja sama tersebut menjadi hal yang sangat penting karena mereka dapat bersama-sama menggali dan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi guru dan/atau siswa di sekolah.
Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian tindakan kelas ini harus berkaitan dengan pembelajaran, atau dengan kata lain penelitian ini harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran. Namun demikian, ada hal yang sangat perlu dipahami bahwa penelitian tindakan kelas bukan sekadar mengajar seperti biasanya, tetapi harus mengandung suatu pengertian bahwa tindakan yang dilakukan didasarkan atas upaya meningkatkan hasil, yaitu lebih baik dari sebelumnya.
Agar penelitian ini mudah diterapkan dan memberikan manfaat atau maslahat, Arikunto dkk. (2007: 6-8) menekankan prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam ber-PTK, yaitu (1) kegiatannya nyata dalam situasi rutin, (2) adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja, (3) SWOT sebagai dasar berpijak, (4) upaya empiris dan sistemik, serta (5) mengikuti prinsip SMART dalam perencanaan.
Demikian strategisnya PTK dalam meningkatkan proses pembelajaran yang dikeluhkan para guru. Oleh karena itu, jenis penelitian ini sangat tepat untuk dipahami dan diaplikasikan dalam upaya mengatasi masalah yang relevan bagi mereka yang kesehariannya tak lepas dari masalah di kelas. Dengan membiasakan diri merespons permasalahan aktual yang dihadapinya, niscaya akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan profesionalisme guru. Jadi, selamat ber-PTK!***
Penulis, guru matematika SMAN 13 Bandung.
Penulis:










Visitors : 69538 visitors
Today : 30 users