Date : 06/21/2006, 10:04:36
AIR matanya berlinang, matanya memerah, kata-kata yang disampaikannya kadang terhenti oleh isak tangis. Ibu bernama Tresna Suci (45) itu, datang ke Koalisi Pendidikan Kota Bandung, Jln. Perintis Kemerdekaan, Selasa (20/6), untuk mengadukan nasib anaknya yang tidak lulus ujian nasional (UN).
Saya heran, mengapa pemerintah Kota Bandung di koran mengatakan puas dengan hasil UN, padahal ada 500 lebih siswa tidak lulus. Bagaimana kalau kejadian seperti ini menimpa anaknya sendiri?" ujar Tresna.
Tresna hanya satu di antara para orang tua yang berani bersaksi atas ketidakadilan kebijakan pendidikan di negeri ini. Betapa tidak, nilai UN anaknya mencapai rata-rata di atas tujuh dengan nilai bahasa Inggris 9,1, bahasa Indonesia 8,8, tetapi matematika 3,6.
Bukan itu saja, prestasi putrinya sebelum UN pun cukup baik. Bahkan, SMAN 8 Bandung tempat anaknya bersekolah sudah memberlakukan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan sistem dan proses pembelajaran yang berbeda dengan sekolah non-KBK. Untuk itulah, Tresna menuntut pemerintah mengadakan UN ulang bagi siswa yang tidak lulus.
Kesaksian serupa disampaikan orang tua siswa SMAN 3 Bandung yang tidak mau disebutkan namanya. Menurut dia, dirinya sangat kecewa dengan sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah.
Kesedihan mendalam semakin dirasakan keluarga asal Sukabumi ini, ketika menyadari anak pertamanya bukan tergolong siswa yang kurang secara akademis. Dua nilai mata pelajaran lainnya yang di UN-kan di atas rata-rata. Bahkan, beberapa waktu lalu anaknya dinyatakan lulus di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Bandung. Selain itu, anak tersebut berencana ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Juli.
Di sekolah, anaknya tergolong siswa aktif dan memiliki nilai rata-rata yang bagus, baik nilai rapor selama SMA maupun nilai-nilai ulangan sehari-hari.
Harapan satu-satunya yang dia inginkan hanyalah diadakannya UN ulang bagi siswa yang dinyatakan tidak lulus. Bukan dengan ujian kesetaraan paket C yang ditawarkan Disdik. "Kalau ijazahnya dari paket C, ya tidak usah sekolah jauh-jauh ke SMAN 3," tuturnya.
Kisah sedih juga dialami Mirna (bukan nama sebenarnya) yang pada UN tahun ini gagal karena nilai matematikanya 4. Padahal, nilai bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di atas 8. Karena itu, dia merasa tidak adil, proses belajar selama 3 tahun di SMA menjadi tidak berarti karena UN yang hanya berlangsung beberapa jam, yang dipakai menjadi parameter penentu kelulusan.
Dia mempertanyakan kredibilitas UN. Pasalnya, jauh sebelum UN diumumkan, Mirna sudah diterima di fakultas teknik industri di salah satu PT ternama di Bandung.
Kini, Mirna bingung dengan kelanjutan studinya. Untuk kuliah di PT tahun ini sudah tidak mungkin karena tidak ada PT yang menerima siswa yang tidak lulus UN.
Oleh karena itu, dia mengharapkan pemerintah segera menyelenggarakan UN ulang sehingga bagi yang tidak lulus masih punya kesempatan untuk kuliah.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung Cucu Saputra mengatakan, siswa yang tidak lulus UN menanggung beban psikologis berat. Apalagi, sejumlah siswa yang tidak lulus ternyata siswa pandai. "Nilai mereka jatuh hanya pada UN, itu pun pada mata pelajaran tertentu," katanya.
Siswa terbebani
Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung, Hj. Kusmeni S. Hartadi, mengatakan, satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan mutu pendidikan, tapi tidak boleh mengorbankan siswa," katanya.
Selain itu, kebijakan untuk mengikuti ujian persamaan kejar paket C, dinilai Kusmeni, juga turut memberi beban psikologis. "Mereka tentu lebih bangga bila lulus dari almamater sendiri. Pelaksanaan kejar paket C, November , tetap saja mereka harus menunggu tahun depan untuk masuk ke bangku kuliah," ujarnya.
Mengetahui banyaknya siswa SMA dari Kota Bandung yang tidak lulus UN, Kusmeni menyatakan, dirinya meminta agar diadakan UN ulang. "Saya mengimbau dan mendorong agar pemerintah pusat melakukan kajian lagi. Harusnya, UN ulang diadakan," ucapnya. (Eriyanti/Nuryani/Ririn/Huminca/ "PR") ***
Sumber : www.pikiran-rakyat.com
Back to Top