User :  Pass :   

     FACILITIES
 
 
     Article
Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Portofolio

Date : 13/07/2006

Timbulnya permasalahan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik sangat memengaruhi suasana dan kondisi pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, tugas dan tuntutan dunia pendidikan yang semakin kompleks, harus mampu memotivasi dan membekali siswa untuk mengambil keputusan yang bersifat reflektif. 

DENGAN kemampuan mengambil keputusan yang bersifat reflektif tersebut, diharapkan siswa mempunyai kepekaan dan tanggap terhadap masalah-masalah sosial serta mampu memecahkan masalah-masalah tersebut. Bahkan, siswa diharapkan mampu membentuk kebijakan umum dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. Untuk menumbuhkan kecakapan tersebut diperlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam diri siswa.

Kecakapan berpikir kritis dan kreatif pada diri peserta didik tersebut diperlukan perubahan dalam metode, model ataupun media pembelajaran di sekolah. Apalagi sejak digulirkannya Kurikulum 2004 dengan KBK-nya, mau tidak mau guru harus mampu merancang pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik untuk lebih aktif, kreatif dan berpikir kritis.

Dalam Kurikulum 2004, guru berperan sebagai fasilitator, sedangkan yang lebih aktif dalam proses pembelajaran adalah peserta didik. Namun demikian, guru tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada peserta didik. Pendidik harus mampu merancang pembelajaran serta memilih kompetensi yang sesuai dengan model pembelajaran yang tepat.

Dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, portofolio merupakan salah satu model pembelajaran yang dianggap mampu memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis dan kreatif. Sebab, model pembelajaran portofolio lebih terpusat pada kegiatan belajar siswa aktif (student active learning). Metode memecahkan masalah merupakan salah satu kojo portofolio sehinga lebih memotivasi belajar aktif peserta didik.

Portofolio yang telah dikenal lebih dulu secara luas dalam lingkup pendidikan adalah portofolio penilaian (portofolio based assessment). Sedangkan portofolio sebagai model pembelajaran (portofolio based learning), di Indonesia baru mulai dibicarakan pada era tahun 2000-an dengan menunjuk beberapa sekolah sebagai pilot project untuk mengembangkan model pembelajaran tersebut.

Menurut pendapat Dasim Budimansyah, portofolio dapat diartikan sebagai suatu (1) wujud benda fisik, yaitu kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan siswa disimpan dalam satu bundel, (2) proses sosial pedagogis adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran siswa, baik yang berujud pengentahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif), (3) suatu adjective, portofolio seringkali disandingkan dengan konsep lain, baik dengan penilaian ataupun dengan model pembelajaran.

Model pembelajaran portofolio dirancang untuk membantu peserta didik untuk memahami suatu teori atau masalah sosial secara mendalam melalui pengalaman belajar yang lebih mendorong siswa untuk aktif, kritis dan kratif dalam proses pembelajaran. Sehingga, mereka mempunyai kompetensi, tanggung jawab, berpartisipasi aktif, belajar untuk mengkaji suatu masalah, belajar untuk menilai, dan memengaruhi kebijakan umum (public policy), serta berani berperan dan mengemukakan pendapat di muka umum.

Model pembelajaran portofolio hanya untuk bidang studi IPS, tetapi bisa juga dipakai dalam bidang studi bahasa ataupun IPA, bahkan mata diklat produktif yang ada di SMK. Dalam hal ini, guru harus memiliki kemampuan memilih dan menentukan kompetensi atau pokok bahasan yang dianggap sesuai dan tepat untuk model pembelajaran portofolio. Yang tidak kalah penting, guru tersebut terlebih dahulu harus mengetahui dan menguasai bagaimana model pembelajaran portofolio diterapkan dalam proses pembelajaran.

Prinsip dasar model pembelajaran portofolio adalah belajar siswa aktif (student active learning), kelompok belajar kooperatif (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar yang reaktif (reactive teaching), dan menjadikan proses belajar yang menyenangkan (joyfull learning).

Prinsip-prinsip dasar tersebut, secara tidak langsung mampu menumbuhkan pola pikir yang kritis dan kreatif pada diri peserta didik, karena mereka dituntut untuk tanggap dan peka terhadap fenomena di sekitar dengan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan cara berkelompok dan pelakonan pada saat melakukan observasi lapangan atau wawancara. *** 

Penulis guru SMKN 13 Bandung.

sumber : www.pikiran-rakyat.com



Source : Oleh TINI SUGIARTINI
Back to Top


         AGENDA
         ALBUM
         ARTICLE
         INFO
         NEWS
         OPINION
         LINK
         GUESTBOOK
         FORUM
     Polling
Bermanfaatkah Web site smun1subang.sch.id bagi anda
ragu-ragu
tidak
ya
   Lihat
     Statistic
  Visitors : 1 visitors
  Hits : 16028 hits
  Today : 4 users
  Online : 2 users

Lihat Statistik
:: Kontak Admin ::

alanrm82    dedeh_suatini
     Agenda
09 September 2010
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
 
 


HOME :: PROFILE :: TEACHER :: STUDENT :: ALUMNI :: FACILITIES
www.sman13bdg.sch.id © 2008. All rights Reserved.