User :  Pass :   

     FACILITIES
 
 
     Article
Habis UN Terbitlah...

Date : 12/07/2006

"Ujian nasional (UN) 2006 ini, nyaris menelan korban jiwa. Seorang siswa berinisial K (18) pada sekolah menengah kejuruan (SMK) Pontianak, mencoba mengakhiri hidup dengan meminum larutan pembersih pakaian setelah mengetahui tidak lulus UN, Senin (19/6)."

Kalimat di atas muncul sesaat setelah mengetikkan "ujian nasional" pada search engine komputer belia. Di bawah deretan kalimat tersebut, masih mengantre panjang hasil penelurusan dengan kata kunci "ujian nasional". Selama dua minggu terakhir ini banyak banget berita terkait dengan monster menakutkan para siswa bernama ujian nasional (UN). Gimana enggak bikin seram, di Jawa Barat saja, sebanyak 5.798 dari 235.344 peserta dinyatakan gagal dalam ujian ini.

Hmmpfh... Helaan naPas tanda prihatin pun langsung keluar. Bukan belia aja yang ngerasa prihatin, kayaknya seluruh orang yang punya kepentingan langsung maupun tidak langsung dengan UN pun akan melakukan hal serupa. Apalagi ditambah banyaknya kasus yang semakin menambah marak kontroversi UN tahun ini.

"Tidak adanya ujian ulangan untuk tahun ini, sejak awal sudah kami sampaikan ke pihak sekolah. Kalau dilihat dari tahapan yang dilakukan pemerintah, kami ingin meningkatkan mutu, di samping upaya untuk meningkatkan motivasi belajar. Motivasi belajar kan seharusnya intrinsik dan ekstrinsik. Ujian nasional ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan motivasi ekstrinsik," jelas Ibu Evi S. Shaleha, Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Kota Bandung, kepada belia Jumat (30/6).

Emang harus diakui juga, bagi sebagian orang--termasuk Belia salah satunya mungkin-- belajar menjadi hal yang enggak menyenangkan. Ngaku aja deh, daripada disuruh belajar, Belia masih lebih memilih nonton tivi atau SMS-an sama temen, kan? Belajar pun jadi sebuah kegiatan yang cenderung dipaksakan. Dalam acara polling interaktif "Padamu Negeri" yang disiarkan oleh Metro TV Kamis (29/6) malam, sekelompok siswa SMA yang berasal dari SMAN 112, SMAN 77, dan President High School--ketiganya dari Jakarta, memandang UN sebagai ajang untuk berkonsentrasi dalam menjawab soal, bukan mengacu kepada proses belajar yang sudah mereka jalankan selama tiga tahun.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil jawaban tadi adalah, mereka belajar hanya karena mau menjawab soal saat ujian saja. Ini ada kaitannya dengan motivasi ekstrinsik yang dijelaskan Ibu Evi tadi. UN dianggap sebagai salah satu cara agar siswa mau menerapkan pola learning for live.

Sandy--bukan nama sebenarnya--hampir merasa putus asa saat dirinya dinyatakan gagal dalam UN. "Enggak ngerti kenapa bisa gini. Rasanya saya sudah belajar mati-matian untuk jawab semua soal dengan baik. Ternyata hasilnya malah gini. Saya bingung mau ngapain," ucapnya lemah. Bayangin aja, di provinsi kita ini masih ada lebih dari lima ribu orang Sandy lain yang mengalami nasib serupa. "Hasil belajar kita selama tiga tahun, ternyata cuman sampai di sini aja," lanjut siswa sebuah sekolah favorit di Bandung ini pelan.

Meningkatkan kualitas pendidikan. Hal tersebutlah yang menjadi tameng pemerintah dalam menyikapi banyaknya siswa yang gagal dalam UN kali ini. Emang sih, kalau dilihat dari angka minimal kelulusan yang "hanya" 4,26 aja, koq banyak yang enggak bisa melampauinya. Tapi yang bisa lulus dengan nilai jauh di atas 4,26, jumlahnya enggak sedikit.

"Batas minimal tersebut menggambarkan betapa masih banyaknya pe-er buat kita semua untuk memperbaiki kondisi seperti ini. Di satu sisi, kita tidak bisa mengelak tuntutan globalisasi, persaingan, yang mengharuskan kita untuk menggenjot kualitas. Tapi di pihak lain, kita masih disibukkan oleh katakanlah pemerataan, mereka (masyarakat-red) menghendaki kalau UN ini tidak dijadikan sebagai standar kelulusan. Sebelumnya, kami sudah menerapkan UN tidak menjadi stadar kelulusan, tapi nyatanya banyak sekolah yang meluluskan seratus persen siswanya tanpa melihat kemampuan anak-anaknya. Sehingga seolah-olah belajar enggak belajar entar juga lulus," terang Ibu Evi panjang lebar.

Ibu Evi sendiri secara pribadi mengungkapkan kesetujuannya terhadap pelaksanaan UN ini. "Pemerintah kan juga enggak drastis menetapkan angka minimalnya. Mulai dari 3,01 lho," lanjutnya sembari senyum. Lain lagi dengan Kang Jabaril yang aktif di lembaga pendidikan no ndidikan di sana kan gratis. Sedangkan di Indonesia, pendidikan di pusat dengan di daerah saja kan perbedaannya sangat jauh," sahutnya saat dihubungi belia lewat telefon, Minggu (2/7).

Ngomongin standar pendidikan di Indonesia, emang enggak ada habisnya. Pasti selalu ada hal miring tentang pendidikan di negara kita. Tapi itu tentu enggak jadi hambatan untuk temen-temen yang kali ini gagal UN untuk terus maju kan? "Kejar paket C masih bisa dipake koq. Kelulusan bukan ukuran prestasi, bukan jaminan. Sekarang saatnya untuk mengalihkan pemikiran, apa yang harus dilakukan," saran Kang Jabaril.

Kalau akhirnya kudu memilih ujian lewat kejar paket C, bukan masalah yang besar. "Masih banyak yang bisa berhasil di dunia musik, sastra, atau seni rupa. Saatnya membangun kreativitas, melihat realita sosial dan kultural yang ada, lalu kembangkan potensi diri dengan sebaik-baiknya," lanjutnya lagi.

Yeps, sekarang udah bukan lagi saatnya meratapi nasib. Toh, pemerintah masih bersikeras untuk tidak mengadakan ujian ulangan. Daripada berharap adanya UN ulangan, saat ini merupakan ajang pembuktian diri kita untuk lebih mandiri. Belajar tentu harus tetap jalan walau tidak berada dalam institusi. "Harus mampu juga menalar dan menganalisais situasi, perluas jaringan pertemanan juga penting. Terakhir, harus mampu bersikap. Tekuni semua hal yang dikuasai," kata Kang Jabaril.

Meanwhile, pihak Diknas pun bakal menelusuri penyebab banyaknya kegagalan dalam UN tahun ini. Seperti yang dikutip dalam sebuah situs koran nasional, dalam waktu dekat, Dinas Pendidikan akan mengkaji penyebab siswa tidak lulus ini. Pengkajian ini untuk mengetahui apakah problemnya terletak di teknis, materi, psikologis, atau lainnya. Karena tidak menutup kemungkinan saat ujian, siswa sedang sakit atau kondisi di lingkungannya tidak baik. Mari kita lihat bareng-bareng apa hasil dari penelusuran pemerintah ini... ***

www.pikiran-rakyat.com  



Source : tisha_belia@yahoo.com
Back to Top


         AGENDA
         ALBUM
         ARTICLE
         INFO
         NEWS
         OPINION
         LINK
         GUESTBOOK
         FORUM
     Polling
Bermanfaatkah Web site smun1subang.sch.id bagi anda
ragu-ragu
tidak
ya
   Lihat
     Statistic
  Visitors : 1 visitors
  Hits : 15672 hits
  Today : 7 users
  Online : 4 users

Lihat Statistik
:: Kontak Admin ::

alanrm82    dedeh_suatini
     Agenda
06 September 2010
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
 
 


HOME :: PROFILE :: TEACHER :: STUDENT :: ALUMNI :: FACILITIES
www.sman13bdg.sch.id © 2008. All rights Reserved.